Indonesia Harus Berguru Ke China Cara Ciptakan Atlet

Perpaduan Otak dan Otot Kunci Sukses China Dominasi Panggung Olahraga

Sadiq Algadri - Pengamat Olahraga dan Pejudo Nasional

Reporter:

OPININEWS.COM, Jakarta --  Dominasi China dalam panggung olahraga global bukanlah sebuah kebetulan yang terjadi dalam semalam.

Keberhasilan Negeri Tirai Bambu tersebut merupakan buah dari konsistensi panjang dalam membina atlet mereka sejak usia yang sangat dini.

Pengamat olahraga, Sadik Algadri kepada www.ppininews.com, di Jakarta, Senin (6/4/2026) menyatakan, menyoroti bagaimana China telah menerapkan sistem kepelatihan yang sangat sistematis bagi anak-anak. Sejak usia empat tahun, para calon atlet di sana sudah mulai ditempa untuk mencapai standar prestasi tertinggi di dunia.

"Kekuatan utama China terletak pada sinergi antara pengembangan kemampuan kognitif dan ketahanan fisik para atletnya. Pendekatan ini menjadi fondasi kuat bagi mereka untuk mendominasi berbagai cabang olahraga di level internasional," ungkapnya.

Menurut Sadik, yang juga mantan Pejudo Nasional, keberhasilan tersebut tidak lepas dari adanya panduan teknis yang sangat jelas dan terukur.

China telah membuktikan perencanaan yang matang selama lebih dari dua dekade mampu membuahkan hasil yang sangat luar biasa.

"China berhasil bersama membangun otak dengan otot atlet sejak usia dini dengan membuat petunjuk teknis yang berkelanjutan dan berkesinambungan pada dua dekade lebih dengan hasil," kata Sadik.

Kondisi yang sangat kontras justru terlihat ketika kita membandingkan sistem pembinaan atlet di Indonesia.

Sadik menilai Indonesia masih terjebak pada tataran formalitas tanpa adanya eksekusi yang nyata di lapangan meski sudah membuat Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) lewat Perpres Nomor 86 Tahun 2021

Pemerintah Indonesia dianggap lebih fokus pada penyusunan regulasi yang terlihat indah namun sulit untuk diterapkan. Hal ini menyebabkan potensi besar para atlet muda sering kali layu sebelum berkembang karena ketiadaan arah yang pasti.

Sadik mengibaratkan kondisi di tanah air sebagai upaya membangun kekuatan yang hanya bersifat administratif semata.

"Bila dibandingkan dengan di Indonesia dengan membangun otot di atas kertas UU yang indah namun kering di realisasi sehingga gagal membangun prestasi dengan disiplin tinggi," ucapnya.

Kurangnya disiplin tinggi dalam sistem pembinaan menjadi kendala utama bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan. Tanpa adanya implementasi yang konsisten, prestasi olahraga nasional akan terus berjalan di tempat tanpa kemajuan yang signifikan.

Para pemangku jabatan di sektor olahraga juga dikritik karena dianggap sering menghindari tanggung jawab teknis.

Mereka dinilai enggan menyusun peraturan mendetail yang bisa menjadi panduan konkret bagi pengembangan atlet dari level akar rumput.

Ketiadaan langkah teknis yang jelas membuat masa depan atlet usia dini di Indonesia menjadi tidak menentu. Kondisi ini berakibat pada kegagalan menciptakan jalur prestasi yang berkelanjutan dari generasi ke generasi berikutnya.

Sadik yang juga pernah menjabat sekjen Persatuan Judo Seluruh Indonesia dan pejabat teras KONI Pusat, melihat para pejabat cenderung menghindari pembuatan petunjuk teknis sebagai dasar langkah yang harus ditempuh para atlet. Padahal, petunjuk teknis tersebut sangat krusial untuk memastikan setiap tahapan pembinaan berjalan sesuai dengan standar profesional.

Situasi ini pada akhirnya menciptakan sebuah fenomena unik yang disebut sebagai peradaban baru dalam dunia olahraga nasional.

Namun, peradaban ini justru merujuk pada pola kegagalan yang terus berulang akibat lemahnya komitmen para pengambil kebijakan. Indonesia perlu belajar banyak dari ketekunan China dalam membangun ekosistem olahraga yang sehat dan berjangka panjang.

Reformasi total dalam birokrasi olahraga menjadi harga mati jika ingin melihat bendera Merah Putih berkibar lebih tinggi. Hanya dengan keberanian untuk mewujudkan aturan di atas kertas menjadi aksi nyata, Indonesia bisa bermimpi meraih prestasi dunia. Disiplin dan petunjuk teknis yang berkesinambungan adalah jembatan menuju kejayaan olahraga yang sebenarnya di masa depan. 

( Edi )

Editor: Saufat Endrawan